Cara Efektif Tumpas HTI Menurut Ahmad Zainul Muttaqin

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Ahmad Zainul Muttaqin dalam akun facebooknya menulis bagaimana cara efektif menumpas HTI? Berikut tulisannya:

MEMBUBARKAN HTI EMANG CUKUP?

Aksi pembubaran HTI yang diwacanakan Kapolri Tito Karnavian tentu layak diapresiasi. Namun yang perlu jadi pertanyaan adalah apakah membubarkan HTI adalah jawaban? Atau jika ini memang jawaban apakah ia cukup hanya dengan melarang HTI, mencabut izinnya dan melarang tabligh-tablighnya? Perlu dicatat, HTI bukanlah tipe kelompok yang apabila dilarang akan mati. Ideologi-ideologi Khilafah semacam ini akan tetap aktif di akar rumput. (Baca: Kian Menguat, Pemerintah Akan Bubarkan HTI)

Perlu diakui, kelompok islam ramah seperti NU kalah militan dan kalah terorganisir dibanding gerakan-gerakan semacam HTI dan PKS yang berkuasa di akar rumput, kaderisasi mereka masuk ke kampus-kampus, sekolah-sekolah, dauroh dan liqo. Kader HTI aktif hampir di setiap kampus (terutama negeri), terus mau dibubarkan piye?

Ibarat hanya memotong batang pohon yang tinggi tentu tidak efektif bila akar si pohon sudah menghujam dan menjalar kemana-mana. (Baca: Denny Siregar: Ahok Pintu Masuk Kelompok Radikal yang Ingin Suriahkan Indonesia)

Membubarkan HTI saja takkan menyelesaikan masalah. Radikalisme akan selalu menemukan jalannya apabila dibungkam. Karena yang menjadi ancaman dalam hal ini bukanlah nama kelompok, merk atau nama ormas, tapi ideologi mendarah daging yang masuk dalam otak dan jiwa-jiwa muda, dan itu tidak akan habis hanya dengan pelarangan sebuah kelompok. Jika HTI dibubarkan, para aktivis haus gerakan dan haus ghiroh jihad mereka akan membentuk gerakan-gerakan serupa yang mungkin tidak akan bernama Hizbut Tahrir tapi nama-nama lain yang mengusung asas yang sama.

Yang lebih parah, mereka bisa cari pelampiasan masuk ke dalam kelompok/ormas lain yang lebih radikal yang basis mereka tidak lagi demo verbal dan teriak-teriak di pinggir jalan, tapi pada aksi aktual. Membubarkan HTI ibarat membangunkan sang pemimpi yang selama ini tertidur di atas bantal, sehingga kini dia bangun dan tidak lagi bermimpi. Syukur-syukur cari bantal lain untuk kembali bermimpi, kalau tidak bagaimana? (Baca: Taktik Kelompok Radikal Kampanyekan Kejahatannya)

Saya dulu pernah mengatakan negara hanya sibuk membunuh teroris tapi tidak membunuh terorisme. Saya ceritakan sedikit hal yang mirip.

“Tebas Kepala Ular!” begitu isi permintaan Ex Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz dalam kabel diplomatiknya kepada Washington yang dibongkar Wikileaks pada 20 April 2008. Apa maksud “Tebas Kepala Ular” ini? (Baca: Kelompok Khilafah Kuasai MUI Untuk Hancurkan Indonesia)

Raja Saudi meminta kepada Top Komandan Militer USA di Timur Tengah Jendral David Petraeus untuk segera menyerang fasilitas nuklir Iran tanpa ditunda lagi lewat komunikasi kategori ‘Classified’ (sangat rahasia).

Pertanyaannya apa itu efektif?

Ternyata tidak, sekalipun fasilitas pengayaan uranium Iran dihancurkan, Iran masih memiliki gudang senjata dan misil balistik antar benua yang tersimpan sepanjang 500 meter di bawah tanah dalam terowongan di bawah pegunungan tersembunyi yang tak terjangkau serangan militer manapun (videonya sempat viral). Sekalipun nuklir itu (bila benar) digunakan untuk bom, penghancuran fasilitas nuklir akan sia-sia belaka karena Iran punya gudang senjata tersembunyi yang (dikhawatirkan) berhulu ledak nuklir. Saran “Tebas Kepala Ular” tentu tidak efektif di mata Intelijen USA. Jangan lupa ular adalah hewan yang masih mampu menggigit ketika kepalanya dipotong.

Kita harus tahu bahwa HTI juga punya “senjata tersembunyi” semacam itu. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bahwa membubarkan saja tidak cukup. Membubarkan seharusnya hanya menjadi langkah kecil dari program lain yang lebih besar, yaitu mengalahkan mereka di akar rumput, menggerakkan para aktivis NU untuk mengambil alih gerakan-gerakan Rohis di sekolah-sekolah yang sebagian sudah terkontaminasi ideologi pro-Khilafah, bekerjasama dengan rektor, BEM dan berbagai Himpunan Mahasiswa untuk membatasi ruang gerak para aktivis dakwah kampus yang terbukti Anti-Pancasila dan menggantinya dengan para ustadz Pro-NKRI yang selama ini hanya mendapat tempat ceramah di kampung-kampung. (Baca: WASPADA! Embrio Khilafah HTI Anti Pancasila Tumbuh Subur di Kampus Indonesia)

Jelas ini adalah Mega Proyek yang tak mudah. Dan Kementerian Agama adalah yang (seharusnya) paling bertanggung jawab soal ini, bukan BIN, BNPT apalagi Densus 88.

Lalu pertanyaannya, apa pemerintah siap? Tidak usah jauh-jauh ke kampus-kampus atau sekolah-sekolah. Kadang badan institusi negara saja “kebobolan” mengundang orang-orang semacam ini sebagai penceramah. (Baca: Kelompok Radikal “Rampok Kampus-kampus Sekuler” di Indonesia)

Kita butuh pembinaan yang tidak lagi intensif, tapi ekstrim untuk memperjuangkan Islam yang moderat yang negara-negara Timur Tengah sana memuji kita karena itu. Ya, terkhusus mbak HTI yang ada di dalam foto ini, biarlah saya saja yang bantu “membina”-nya. Membina akalnya atau bila perlu ya membina rumah tangga. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment