Denny Siregar: Indonesia Mulai Terlihat Sebagai Suriah Kecil

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Denny Siregar mengupas tentang kekhawatirannya mengenai maraknya gerakan yang mengatasnamakan agama untuk digunakan melawan pemerintah dan menggerus persatuan serta kebhinekaan NKRI. DS juga menjelaskan bagaimana hancurnya Suriah karena Isu Sektarian dan provokasi atas nama agama. Berikut tulisannya: (Baca: Suriah Hancur Karena Isu Agama Dibenturkan dengan Pemerintah dan Kebhinekaan)

Suriah Kecil Itu Bernama Indonesia

Perhatikan. “Akan datang suatu masa yang menimpa manusia; tidak ada Islam kecuali tinggal namanya saja, tidak ada Al Qur’an kecuali tinggal tulisannya saja. Masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk, serta ulama-ulamanya adalah orang yang paling jahat yang berada di bawah langit”. (HR. Al Baihaqi)

Melihat Indonesia sekarang, saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi pada Suriah ketika awal-awal perang.

Suriah -negeri plural tempat tinggal berbagai macam agama dan kepercayaan hidup berdampingan dengan damai- akhirnya runtuh karena masyarakatnya terpengaruh isu sektarian. (Baca: Denny Siregar: Konflik Suriah di Indonesia)

Suriah yang persenjataan dan keamanannya begitu kuat -karena itu warga Palestina sering minta perlindungan kepada mereka- dihancurkan dari dalam. Warga Suriah ternyata rentan dengan isu provokasi yang mengangkat agama sebagai senjata penghancur massal.

Situasi awal hancurnya Suriah, persis seperti yang digambarkan hadis akhir zaman diatas. Masjid-masjid di Suriah tumbuh dengan pesat. Provokasi melalui masjid, menjadikan masjid bukan lagi menjadi tempat yang meneduhkan, melainkan sumber angkara murka.

Islam yang pada awalnya diturunkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam, dibelokkan menjadi agama yang menakutkan. Itulah yang dimaksudkan “Islam hanya tinggal namanya saja”. (Baca: Denny Siregar: Ahok Pintu Masuk Kelompok Radikal yang Ingin Suriahkan Indonesia)

Teriakan Allah Maha Besar dimana-mana, tetapi bukan dalam rangka takjub akan kebesaran Tuhan. Nama Tuhan menjadi identik dengan bahasa perang. Yang terjadi akhirnya pelecehan terhadap kata “Allahu Akbar” menjadi Ahmad Albar dan segala macam. Islam tinggal nama, tetapi kosong dengan keilmuan.

Para pembaca Alquran banyak. Mereka dilahirkan dan dididik sebagai penghafal. Bacaan mereka bagus dengan suara merdu mendayu.Tapi sedikitpun mereka tidak paham makna dan tujuan dari ayat-ayatnya. Akhirnya tafsir kalimat dalam Alquran dipelintir habis demi kepentingan satu golongan.

Dibelokkan sesuai keinginan pemesan. (Baca: HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI)

Itulah yang dimaksud “Alquran tinggal tulisannya saja”. Kering akan pesan yang bermanfaat. Masjid kosong akan petunjuk, karena di dalamnya sudah sulit menemukan penunjuk arah yang benar. Masjid-masjid dipenuhi nafsu yang jauh dari petunjuk Alquran, malah berfungsi sebagai basecamp perang yang hanya melindungi golongan mereka saja.

Dan dari “Islam yang tinggal namanya saja”, juga “Alquran yang tinggal tulisannya saja”, lalu “Masjid yang kosong dari petunjuk”, maka lahirlah “ulama-ulama jahat” bahkan paling jahat di kaki langit.

Kenapa disebut paling jahat? Karena dari merekalah lahir pemikiran-pemikiran radikal yang diamini oleh banyak pengikutnya.

Ulama-ulama yang berpihak pada penguasa. Yang dimaksud penguasa disini bukan hanya pemerintahan, karena pada masa Islam ada pemerintahan yang benar. Tetapi penguasa yang punya tujuan sangat jahat, untuk memporak-porandakan satu wilayah demi nafsu berkuasanya.

Dan seharusnya mata kita terbuka akibat dari kejadian itu semua melalui contoh di Suriah. Tuhan masih sayang pada negeri kita, karena peristiwa Suriah-lah yang menjadi guru kita, bukan kita yang menjadi contoh dari banyak negara. (Baca: Inilah Kenapa Jokowi dan Bashar Assad Dihancurkan)

Saya selalu memohon perlindungan kepada Tuhan supaya Indonesia dijauhkan dari semua hal tentang kekejian yang terjadi di Suriah.

Tapi yang saya takutkan, demi bisa memisahkan mana benar dan mana salah, Tuhan bisa saja memberi kita pelajaran dalam bentuk kejadian yang sama supaya kita paham. Hanya supaya kita paham saja. Setiap kali ditanya, “apa ada kemungkinan kita bentrok fisik seperti apa yang terjadi di Suriah..”, selalu kopi saya mendadak begitu pahit untuk di seruput. Kemungkinan itu ada… dan sangat besar. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment