Denny Siregar: PKS Ingin Jegal Jokowi di Pilpres 2019 dengan Kuasai Jabar dan DKI

JOKOWI & BIDAK CATUR DI JABAR

Dari hasil diskusi kemarin, seorang teman bertanya, “kenapa buat abang pilkada Jabar begitu penting?”. Saya senyum dan mengambil secangkir kopi yang tersedia. “Pilkada Jabar ini sangat penting karena berhubungan dengan Pilpres 2019”. (Baca: Denny Siregar: Inilah Perang Politik PKS di Indonesia)

“Bukankah Pilpres masih jauh?” Tanyanya lagi.

“Memang. Tapi semua partai sudah banyak yang memusatkan perhatiannya pada pilpres. Pilpres ke depan ini akan lebih panas dari sebelumnya. Ini karena banyak yang kecewa pada Jokowi karena kepemimpinannya. Terutama para mafia, mulai dari mafia pangan sampai migas.

Belum lagi negara barat yang kecewa karena Jokowi tampaknya lebih berkiblat ke Timur. Itu tampak dari hubungan dengan China, Rusia dan Iran yang terus meningkat. Apalagi sesudah simbol Amerika, Freeport, diobok-obok”. (Baca: Sindiran Pedas Denny Siregar Kepada Aher Kader PKS)

“Terus apa hubungannya dengan Jabar?”.

“Begini..” aku memperbaiki dudukku mencoba lebih nyaman sambil mengambil sebatang rokok yang siap menyala. “Kuberikan gambar besarnya”.

“Pertama, Jabar itu dekat dengan Jakarta, pusat pemerintahan. Sesudah pilgub DKI, pilgub Jabar ini menjadi agenda penting karena berkaitan dengan penguasaan wilayah di sekitar pemerintah pusat.

Kita tahu bahwa pada aksi massa 411 dan 212 kemaren, banyak sekali massa yang dikoordinir dari Jabar. Dan itu rentan sekali dimanfaatkan untuk menggoyang Jokowi ketika mendekati Pilpres. Apalagi jika di DKI Ahok kalah, maka pertahanan pusat akan makin rentan terbuka”. (Baca: Saiful Huda Bongkar Politik Kotor PKS di Jawa Barat)

Kuseruput kopiku yang sudah mulai mendingin.

“Kedua, jumlah pemilih di Jabar adalah terbanyak se Indonesia. Ada lebih dari 33 juta pemilih disana. Dan pada pilpres lalu di Jabar Jokowi kalah telak. Ini berkat Aher yang jaringannya sangat kuat disana.

Aher tidak tampak besar di media massa dan media sosial. Tetapi ia menguasai pedesaan melalui masjid-masjid, pengajian dan majelis. Dan strategi dia benar, karena Jabar 60 persennya adalah Kabupaten. Secara lapangan, Jabar adalah pedesaan bukan kota”. (Baca: Surat Terbuka Aznil ST: Indonesia Menggugat PKS)

Temanku manggut-manggut mengerti dan aku mulai kembali seruput kopi.

“Nah ,pertarungan pilpres nanti akan membawa koalisi yang sama. PDIP dengan koalisinya melawan Gerindra PKS dan koalisinya.

Ini koalisi permanen yang dimainkan di DKI, di Jabar dan di Pilpres 2019. Jadi sudah bisa keliatan kan, bahwa nanti ujungnya ke Pilpres juga?” Kubakar rokokku yang sejak tadi hanya sebagai penghias jari.

“Jokowi kan muslim, apa masih laku isu sektarian untuk menghantam dia nanti?”.

“Masak gak lihat bangkitnya Cendana kembali? Soeharto itu dikenal sebagai pemberantas PKI. Jadi isu yang dimainkan untuk menghantam Jokowi adalah isu bangkitnya PKI. (Baca: PKS PARTAI TERLARANG)

Kebayangkan ketika mendekati pilpres ada gorengan isu “Muslim vs PKI”? Dan ratusan ribu orang dari Jabar kembali bergerak ke pusat pemerintahan untuk menurunkan Jokowi? Bukan niat makar pastinya, tapi untuk menghancurkan kredibiltasnya dan menurunkan suaranya.

Disini saja potensi chaos mudah tercipta….”

Temanku mulai mengerti, “Oh, pantas Aher berencana menaikkan isterinya di pilgub Jabar. Itu untuk menjaga suara yang selama ini dia pelihara rupanya”.

Aku tersenyum. Satu persatu kepingan puzzle tersusun membentuk gambar. Kunikmati cangkir kopi kedua yang tadi kupesan. Masih panas, lumayan. (Baca: Ari Wibowo: Mohon Maaf Jika Saya Terpaksa Benci Partai PKS yang Tolak Pancasila)

“Lalu kira-kira siapa tokoh yang paling mampu melawan Aher dan kroninya di Pilgub Jabar?”. Ah, ini menarik. Tapi sayang sudah malam. Kutepuk bahu temanku, “besok saja kulanjutkan..”. Dia merengut seperti patung macan senyum yang sudah dibongkar. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment