Dubes Bolivia dalam Sidang DK PBB: Sejarah Buktikan AS adalah Pembohong

Sabtu, 08 April 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, NEW YORK – Duta besar Bolivia dalam pidato berapi-api saat sidang darurat DK PBB mengecam keras tindakan sewenang-wenang AS dalam serangan negara itu ke Suriah.

Duta Besar Bolivia untuk PBB, Sacha Llorenti, membandingkan alasan bagi langkah sepihak yang dilakukan AS saat ini dengan yang dilakukan AS pada tahun 2003 lalu, saat mantan Menteri Luar Negeri AS yang terkenal, Colin Powell, dalam presentasinya kepada PBB, membawa bukti palsu program senjata Irak, dimana bukti palsu itu sengaja diajukan untuk membenarkan invasi AS ke Irak.

Sambil menunjukkan sebuah foto besar yang diambil saat pidato Colin Powell mengenai “senjata pemusnah massal” tahun 2003 lalu, Llorenti mendesak PBB untuk meminta AS bertanggung jawab atas serangan tak beralasan ke Suriah pada Kamis kemarin, mengingatkan sejarah intervensi imperialis AS di negara-negara lain, termasuk Amerika Latin.

“Sekarang Amerika Serikat merasa bahwa mereka adalah penyidik, mereka adalah pengacara, hakim dan mereka adalah algojo. Itu bukan yang disebut hukum internasional,” tegasnya. Bolivia  saat ini menduduki kursi non-permanen di Dewan Keamanan PBB.

“Saya percaya penting bagi kita untuk mengingat apa yang sudah sejarah ajarkan dalam hal ini (tahun 2003), Amerika Serikat saat itu menegaskan, mereka menegaskan bahwa mereka memiliki semua bukti yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, tetapi ternyata hal itu tidak pernah ditemukan … tidak pernah ada yang mereka temukan,” ujar utusan Bolivia tersebut dalam sidang darurat Dewan Keamanan pada hari Jumat.

Pada 5 Februari 2003, Sekretaris AS Collin Powell menyajikan “bukti” palsu bahwa pemerintah Irak mengembangkan senjata pemusnah massal, termasuk agen saraf yang mematikan. Presentasinya sejak itu telah didiskreditkan secara luas, karena tidak ada bukti program senjata pemusnah missal yang pernah ditemukan. Powell sendiri mengungkapkan penyesalan atas apa yang ia sebut sebagai “kegagalan intelijen besar”.

Kemarin, AS atas perintah Trump, dengan alasan serupa, yaitu tuduhan serangan senjata kimia, tanpa melewati penyelidikan dan tanpa persetujuan kongres, meluncurkan puluhan rudal jelajah tomahawk ke pangkalan udara Shayrat di Homs Kamis malam. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa hanya 23 dari 59 rudal mencapai sasaran yang dituju, dengan pendaratan sisanya di desa-desa di dekatnya. sumber media Suriah melaporkan bahwa sembilan warga sipil tewas dalam serangan, empat anak. (Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment