Hancurnya Kerajaan Khawarij Wahabi Saudi

Runtuhnya-Kerajaan-Terorisme-Dunia
Kamis, 12 Januari 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, RIYADH – Sebuah artikel yang ditulis oleh Ahmad al-Habsyi di situs Middle East Panorama (12/01), dia menyatakan bahwa beberapa media Arab Saudi bisa saja memalsukan, menyesatkan dan menyalahi fakta, namun apapun yang ia lakukan tak akan pernah bisa merubahnya. Hari ini kita hidup dalam sebuah ruang di bawah langit “terbuka”, seperti yang dikatakan tak ada seorangpun yang berbohong dan melanjutkan kebohongannya tanpa terungkap. (Baca: Kehidupan Glamor Raja Salman Ditengah Kemiskinan Rakyat Saudi)

Kita mengakui bahwa media Al-Arabiya dan anak tirinya Al-Jazeera, serta media-media yang berafiliasi dengannya  saat ini unggul dan tak terbantahkan lagi dalam seni menipu, propaganda, photoshop dan mengaburkan kebenaran, tapi saat inilah hak kami untuk mengatakan bahwa semua channel-channel Suriah, meskipun dengan fasilitas sederhana dan minim sekali dapat memperlihatkan kebenaran dan mengembalikan kepercayaan pemirsa Arab dari media-media kerajaan. (Baca: Promosi ISIS Ala Televisi “Al Jazeera” Qatar)

Tentu saja, rezim Arab Saudi telah mengalami banyak kerugian dalam setiap pertempuran terutama perang media,  dan semua konspirasi terhadap Suriah yang penuh dengan hipnotis bagi channel-channel  Teluk. Ya, memang ada keseriusan tersendiri dalam peran media yang menyesatkan semua kejadian yang ada di Suriah, menyebarkan keraguan dan kekacauan sehingga sangat mudah memasukkan kelompok-kelompok teroris bersenjata ke dalam wilayah Suriah secara paralel dan memakai para  pembangkang untuk mereka gunakan sebagai alat propaganda melawan rezim.

Kami sangat ingat  kegaduhan yang digoreng oleh media Arab Al-Jazeera dan Al-arabiya dalam menukil “tragedi” penghianatan Riad Hijab dan keluarga Mustafa Talas, serta kami sangat ingat  bagaimana Al-arabiya menyiapkan waktu yang cukup lama untuk komentar Napoleon atas pengkhianatan Abdel Halim Khaddam. Kami juga ingat, bagaimana Al-Jazeera menjamu beberapa anggota kemiliteran yang melarikan diri dari berbagai lokasi di Suriah dan pengusiran mereka sebagai saksi runtuhnya sistem, yang menggerogoti dari dalam. Namun, seiring berjalannya waktu, jelaslah sudah bahwa rezim salman adalah penerima pertama dari pelarian reptil beracun ini, yang aktif menjadi mega proyek Zionis di Teluk untuk menggulingkan Presiden Assad. (Baca: Inilah Rencana Jahat Amerika, Zionis dan Wahabi di Timur Tengah)

Terus terang bahwa kurangnya konsentrasi pada drama pengkhianatan telah membuat koalisi Suriah mengajukan pengganti Presiden Suriah dan membatasi “oposisi” dalam operasinya bisa menyakiti proyek konspirasi kotor terhadap Suriah dan memberi beberapa peluang bagi pemerintah untuk mengungkapkan identitas klien-klien, dan pengkhianat yang dispsonsori oleh Qatar, Turki dan Arab Saudi tanpa memiliki representasi nyata di Suriah.

Tidak ada batasan bagi Arab Saudi untuk bersikap munafik dalam politik, dan tidak ada penghalang atas biaya fiktif yang dibuat oleh rezim untuk memicu perang di Suriah, telah membuatnya jatuh pada titik lemah dan tidak menghasilkan apa-apa semenjak melonjaknya harga minyak sejak puluhan tahun yang lalu. Sebenarnya ada upaya terburu-buru yang berlebihan untuk menggulingkan Presiden Suriah. Di sisi lain, Turki berjanji pada dirinya sendiri dan berjanji pada warganya bahwa bani Ottoman dapat melaksanakan shalat di masjid Umayyah. Namun, sekarang mereka shalat seperti biasanya di masjidnya masing-masing yang saat ini menjadi sasaran para teroris buatan mereka sendiri untuk dikirimkan ke Suriah dengan tujuan memecah belah umat, namun sekarang sudah dikalahkan dan kembali lagi untuk memukul kepentingan Turki.

Media-media Arab ada yang bersikeras memalsukan sejarah dan realita dan mereka mengatakan bahwa Raja Abdullah dan Raja Salman adalah dua merpati perdamaian yang datang ke Suriah untuk menelurkan telur yang dapat membunuh orang-orang yang anti-Suriah, dari kelompok-kelompok lain yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Suriah di negeri ini tanpa adanya gangguan. Pada awalnya tidak sulit untuk mengeksploitasi ledakan kemarahan orang Suriah atas kepemimpinan presidennya seperti yang terjadi di semua negara di dunia karena krisis ekonomi dan keamanan yang memburuk, dan tidak sulit pula bagi Khawarij Wahabi melakukan kejahatan mereka.

Lalu media Al-Jazeera secara khusus membungkusnya dengan rapi  bahwa masalah ini belum ada penyelesaian dan disebarkan pula oleh “media-media” lain secara terorganisir. Sangat mudah untuk mengolah foto, perkataan, bagi pemirsa yang menikmati berita yang memojokkan Presiden Assad, di sisi lain Presiden Suriah tidak mampu bereaksi cepat dan respon karena adanya birokrasi yang menyibukkan di pemerintahannya, tanpa kecuali.

Raja Salman telah menyediakan semua alat bagi kelompok takfiri untuk melakukan tindak terorisme pada warga Suriah, dengan membakar kota-kota, jasad, menumpahkan darah dan menghancurkan tempat-tempat suci atas nama “agama” baru Saudi yang disebarkan oleh yayasan-yayasan Wahabi, dan disebarkan ke seluruh dunia. Tragedi berdarah, pembantaian dan genosida yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Takfiri Saudi dan pemerintahan Saudi mengayomi genosida yang terjadi dalam perang Suriah. (Baca: Mufti Suriah: Nabi Ajarkan Kasih Sayang, Toleransi dan Cinta, Bukan Membunuh dan Membom)

Al-Arabiyah menggambarkan kejahatan mengerikan dan kematian orang-orang Suriah bukanlah masalah yang penting bagi Saudi, setelah Raja Salman melindungi aksi genosida ini dan mengirim peralatan perang, senjata canggih dan uang untuk menguatkan tekad pasukan teroris yang beroperasi di Suriah. Raja Salman tidak memiliki etika seperti orang gurun dan tidak memiliki hati nurani, ia adalah keturunan Lawrence of Arabia dan Kim Philby pedagang tenaga kerja terkenal, dia bukanlah Raja Hijaz, dia hanyalah pejabat yang murtad dari Islam dan hamba Zionisme sebagaimana ia mengekor semenjak kekuasaan kolonial Inggris memberikan kekuasaan pada Bani Saud.

Raja Saudi telah menciptakan simbol-simbol Takfiri di dunia untuk melayani proyek jihad dan mendukung rakyat Suriah melawan presidennya yang  dituduh kafir dan murtad dari Islam. Kami telah melihat ketergesaan aliansi Saudi dengan Turki yang kemarin menjadikan Rusia sebagai musuhnya, namun Turki merapat ke Rusia setelah dikhianati oleh kudeta gagal yang dirancang oleh Barat dan sekutu regionalnya. Kami juga melihat Saudi menghentikan persahabatannya dengan Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, kami melihat bagaimana kegagalan Raja Salman dalam pemilihan presiden Lebanon yang dimenangkan Presiden Michel Aoun. Kekalahan di Aleppo dan sebagian kota di Suriah, Arab Saudi malu dan mencapai banyak kerugian yang menyebabkan munculnya ancaman langsung dari Presiden AS yang mengatakan bahwa Saudi-lah yang telah melindungi teroris di dunia dengan ketentuan dari kongres AS. (VOAI)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment