Ilmuwan Australia: AS Ingin Hancurkan Suriah dengan Propaganda Serangan Kimia

Kamis, 13 April 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, AUSTRALIA – Univesitas Sydney, salah satu universitas paling bergengsi di Australia jadi sorotan media setelah  ilmuwannya dianggap pro-Presiden Suriah Bashar al-Assad. Seorang ilmuwan universitas itu meyakini bahwa serangan senjata kimia di Idlib adalah hoax rekaan Amerika Serikat (AS) untuk menghancurkan Suriah sebagai negara yang berdaulat.

Ilmuwan itu bernama Tim Anderson, seorang dosen di Universitas Sydney. Tak hanya meragukan serangan senjata kimia, Anderson juga menuduh AS sebagai perekayasa perang sipil yang meluluhlantakkan Suriah. “Perang sipil enam tahun Suriah adalah rekaan yang dilakukan oleh AS untuk menghancurkan bangsa yang merdeka,” katanya.

Fairfax Media dalam laporannya, Selasa (11/4/2017) mengungkapkan bahwa Dr Anderson adalah salah satu di antara sejumlah akademisi Australia yang telah membentuk gerakan pro-Assad yang bernama “Centre for Counter Hegemonic Studies” yang berbasis di Sydney, untuk melawan “sensor” dari universitas.

Pusat Studi itu diisi para ilmuwan dari berbagai universitas. Selain Anderson, ada Luis Angosto-Ferrandez (dosen senior Universitas Sydney), Drew Cottle dari Universitas Western Sydney, Rodrigo Acuna dari Universitas Macquarie dan sejumlah akademisi lainnya, termasuk dua dari Timor Timur.

Minggu depan Pusat Studi tersebut akan mengadakan konferensi dua hari di Universitas Sydney, termasuk diskusi tentang konflik Suriah dari perspektif Hizbullah. Acara ini didukung oleh Universitas Sydney yang didanai oleh Union Political Economy Society.

Sosok Anderson selama ini dikenal sebagai pendukung antusias negara Suriah. Dr Anderson pernah dihukum pada tahun 1990 selama pemboman Hilton Hotel di Sydney tahun 1978. Namun dia dibebaskan pada tahun berikutnya. Dia telah melakukan perjalanan ke Suriah beberapa kali untuk bertemu Presiden Assad.

Anderson baru-baru ini menuliskan tweet pro-Assad yang diberitakan ABC Media Watch dan News Corp Daily Telegraph. Anderson dan pendukungnya menyebut serangan senjata kimia di Suriah sebagai “berita palsu”. Dia mengecam para wartawan yang terlibat pembuatan berita tersebut.

Jay Tharappel, tutor hak asasi manusia di sebuah departemen di Universitas Sydney menyebut wartawan News Corp, Kylar Loussikian sebagai “sampah pengkhianat” yang sangat menginginkan genosida Armenia kedua. Loussikian diketahui memang berlatar belakang Armenia. [Voai]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment