Ini Alasan AS Soal Larangan Laptop di Pesawat

Rabu, 22 Maret 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM,Washington – Larangan penumpang membawa laptop, tablet dan alat-alat elektronik berukuran lebih besar dari telepon genggam ke dalam kabin pesawat dikeluarkan oleh pemerintahah Amerika Serikat. Halyang dilakukan pemerintahan Trump itupun didukung oleh para anggota parlemen.

Para anggota parlemen AS telah mendapat penjelasan mengenai informasi intelijen soal kemungkinan serangan teroris di balik pemberlakuan larangan tersebut. Sejauh ini belum ada penolakan dari parlemen AS pada akhir pekan lalu.

Politikus senior Partai Demokrat di Komite Intelijen DPR AS, Adam Schiff dengan tegas menyampaikan dukungannya atas larangan tersebut.

“Langkah-langkah ini diperlukan dan sesuai untuk ancaman tersebut,” ujar Schiff seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (22/3/2017).

“Kita tahu bahwa kelompok-kelompok teroris ingin menjatuhkan pesawat dan terus menggunakan cara-cara kreatif untuk mencoba dan mengakali metode-metode pendeteksian,” imbuhnya.

Menurut informasi dari sumber-sumber pejabat AS mengatakan, kekhawatiran akan serangan teroris meningkat setelah sejumlah insiden di pesawat dan bandara-bandara dalam beberapa tahun terakhir.

“Pemerintah AS khawatir akan minat teroris yang terus berlanjut dalam menargetkan aviasi komersial, termasuk pusat-pusat transportasi dalam dua tahun terakhir,” ujar seorang pejabat AS kepada media ABC News.

Pejabat AS itu menyebutkan tentang insiden pada Februari 2016 lalu ketika terjadi ledakan yang menimbulkan lubang di bagian samping pesawat maskapai Daallo Airlines. Kelompok radikal Somalia, Al-Shabaab mengklaim ledakan bom tersebut. Saat itu, seorang penumpang yang diduga sebagai pengebom tewas, namun pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Hasil penyelidikan kemudian menunjukkan ledakan berasal dari sebuah laptop berisi bahan peledak.

“Evaluasi intelijen mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok teroris terus menargetkan aviasi komersial dan secara agresif mencoba metode inovatif untuk melancarkan serangan mereka, termasuk menyelundupkan bahan peledak dalam berbagai barang-barang konsumen,” ujar pejabat AS tersebut.

Sejak Senin (20/3) waktu setempat, pemerintahan Trump memberlakukan larangan membawa setiap alat elektronik berukuran lebih besar dari telepon genggam, ke dalam kabin pesawat. Elektronik seperti laptop, tablet maupun kamera bisa dibawa namun harus dimasukkan ke bagasi pesawat.

Larangan AS ini diberlakukan untuk penerbangan tujuan AS dari 10 bandara yang ada di 8 negara mayoritas muslim. Penerbangan internasional dari Yordania, Kuwait, Mesir, Turki, Arab Saudi, Maroko, Qatar, dan Uni Emirat Arab terkena dampak larangan ini. Sedikitnya 50 penerbangan tujuan AS untuk setiap harinya berasal dari negara-negara itu.

Sedangkan maskapai internasional yang terkena dampak larangan ini antara lain, Royal Jordanian, EgyptAir, Turkish Airlines, Saudi Arabian Airlines, Kuwait Airways, Royal Air Maroc, Qatar Airways, Emirates dan Etihad Airways. Maskapai AS tidak terkena dampaknya, namun setiap warga AS yang menumpang maskapai yang terdampak larangan tersebut juga menghadapi larangan yang sama.(VOAI/detik)

Related posts

Leave a Comment