Kenapa Mantan Presiden Yaman Susul Raja Salman ke Asia? Ini Alasannya

Surat kabar ini mengatakan bahwa Putra Mahrota Saudi Pangeran Mohammed bin Nayef telah menolak bertemu dengan Hadi dan memintanya untuk menyusul Raja Saudi menuju Asia Timur jika benar-benar ingin menemui Raja Salman.

Raja Salman memulai tur perjalanannya ke Indonesia sejak awal bulan Maret ini dan ia baru akan kembali ke Riyadh satu bulan kemudian.

Para pengamat meyakini bahwa alasan Hadi terpaksa menyusul Raja Saudi selain untuk ikut berpartisipasi dalam KTT, hal ini juga bertujuan untuk mencapai kesepakatan terbaru mengenai posisi Hadi dan masa depan politiknya. (Baca: 5 Alasan Monarki Wahabi Saudi Lakukan Kejahatan Terhadap Yaman)

Surat kabar Yaman pada hari minggu (05/03) menerbitkan sebuah laporan panjang yang menegaskan bahwa UEA telah memutuskan untuk mengubah kebijakannya terhadap Hadi setelah terjadinya perselisihan hebat dengan Hadi dan tingkat perselisihan ini telah sampai ke titik pertempuran fisik.

Sementara itu, beberapa sumber mengatakan bahwa sebelum Hadi meninggalkan Riyadh ia bertemu dengan Dubes AS menuju Yaman, dan ia mendengar dari Dubes AS ini tentang sikap tegas pemerintahan AS yang baru yang berpegang pada rencana Kerry untuk mengusahakan solusi politik di Yaman.

Disebutkan bahwa rencana utusan PBB untuk Yaman Ismail Ould Cheikh Ahmed sejalan dengan ide-ide Kerry yang menyarankan pembentukan pemerintahan persatuan nasional di Yaman dan memindahkan kekuasaan dan wewenang Hadi kepada wakil presiden yang kompatibel, sebagai contoh inisiatif Teluk pada tahun 2011. Hal inilah yang akhirnya mendorong Hadi untuk segera menyusul Raja Salman dan tidak menunggu hingga Raja Salman kembali dari Asia.

Duta besar untuk Yaman, Mateo Tauler mengatakan bahwa tidak ada pilihan solusi militer yang tersedia bagi pihak yang bertikai di Yaman. Ia mengatakan kepada surat kabar Middle East Saudi Arabia bahwa pemerintah AS yang baru akan menerapkan rencana Kerry tanpa perubahan. (Baca: Lagi, Yaman Sikat Pasukan dan Tentara Bayaran Saudi dengan Rudal Katyusha)

Sementara itu, surat kabar Hadramout mengungkapkan bahwa pemerintah Abu Dhabi memberikan Arab Saudi dua pilihan krusial yakni meninggalkan hadi dan pemerintahannya atau menerima penarikan pasukannya dari koalisi Arab yang dipimpin Riyadh yang menciptakan badai kehancuran di Yaman yang telah mendekati tahun ketiga.

Surat kabar ini mengungkapkan tentang kegagalan setiap upaya politik dan upaya yang tak kenal lelah yang telah dilakukan oleh Hadi dalam usahanya untuk menahan sikap UEA dengan segala cara yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, dan ia harus kembali dengan kecewa setelah kunjungannya untuk menegemis terakhir kali pada Abu Dhabi.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ould Cheikh tengah berusaha mengadakan putaran ketiga negoisasi Yaman di Kuwait yang merupakan kartu terakhirnya yang mencakup prosuder dan pengaturan keamanan bersamaan dengan proses pengalihan kekuasaan politik termasuk presiden dan sistem pemerintah.

Semua hal ini memunculkan pertanyaan: Apakah waktu kepergian Hadi telah tiba, ataukah ia bisa menangguhkan keputusan tersebut yang diharapkan oleh seorang pengkhianat seperti dirinya yang telah menerima kutukan dari rakyatnya dan sebelum hilangnya belas kasihan dari tuannya di Gedung Putih. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment