Korsel Punya Waktu 60 Hari Untuk Memilih Pemimpin Baru

Jumat, 10 Maret 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, Seoul – Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-hye dipecat dari jabatannya. Ia menjadi presiden pertama yang terpilih secara demokratis yang diberhentikan. Park dipecat setelah Mahkamah Konstitusi Korsel memperkuat hasil pemungutan suara parlemen yang mendakwa dia atas skandal korupsi dan kronisme yang kelak bisa diancam tuntutan pidana.

Kini Korsel memiliki 60 hari untuk memilih pemimpin baru setelah mahkamah terdiri delapan hakim agung secara bulat mendukung gerakan pemakzulan, yang diloloskan pada Desember oleh majelis nasional. Tuduhan atas Park adalah pemerasan, suap, penyalahgunaan kekuasaan, dan membocorkan rahasia pemerintah.

Putusan MK Korsel disiarkan langsung di televisi, pada Jumat 10 Maret pagi, di tengah keamanan yang ketat di jalan-jalan di luar gedung pengadilan di Seoul. Park seketika kehilangan kekebalan eksekutifnya terhadap dakwaan kriminal yang dia nikmati sebagai presiden.

Ketua Mahkamah Agung Lee Jung-Mi mulai membaca putusan pada pukul 11:00 waktu setempat. Selagi para pendukung dan penentang Park berkerumun di luar gedung pengadilan.

“Sejumlah tindakan presiden dinilai serius mengganggu semangat demokrasi dan supremasi hukum”, kata Lee, Jumat, 10 Maret 2017.

“President Park Geun-Hye dengan ini diberhentikan,” imbuh Lee.

Kekuasaan Presiden Park telah dibekukan dan dialihkan ke pejabat Presiden, Hwang Kyo-ahn, pada Desember. Park akan segera mundur sementara persiapan dilakukan guna memilih penggantinya. Politisi berusia 65 tahun itu harus menerima nasib buruk sebagai pemimpin Korsel yang paling tidak populer sejak negara itu menjadi demokrasi di akhir 1980-an.

Skandal yang membelitnya turut menjerat para pejabat senior pemerintah dan tokoh-tokoh bisnis, termasuk Lee Jae-yong, kepala Samsung, yang membantah suap, korupsi, dan dakwaan lainnya pada sidang pertama di pengadilan, pada Kamis 9 Maret.

Warga Negeri Ginseng menyambut kabar skandal itu musim panas lalu dengan turun ke jalanan dalam jumlah jutaan orang setiap akhir pekan. Park, putri dari mantan diktator Korsel, jadi target kecaman rakyatnya sendiri.

Park bukan pemimpin pertama Korsel yang dimakzulkan oleh majelis nasional. Presiden liberal, Roh Moo-hyun, diberhentikan pada 2004, tapi menjabat kembali dua bulan kemudian setelah MK Korsel mengatakan dugaan pelanggaran UU Pemilu terbilang pelanggaran ringan dan tidak kompeten membenarkan penggulingannya.(VOAI/Metronews)

Related posts

Leave a Comment