Mengingat Pembantaian Keji Israel di Deir Yassin 69 Tahun Lalu

Selasa, 11 April 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, YERUSSALEM – 69 tahun yang lalu pada 9 April, geng Zionis melakukan pembantaian keji di desa Palestina yang dicaplok Israel, Deir Yassin, membunuh dan membantai puluhan warga Palestina, termasuk anak-anak dan wanita.

Penjahat perang Israel, Menachem Begin, pemimpin geng Irgun yang berpartisipasi dalam serangan di Deir Yassin, mengatakan bahwa jika bukan karena pembantaian Deir Yassin, tidak akan ada negara Israel.

Dalam sebuah surat kepada komandannya ia menulis,

“Katakan kepada para tentara, kalian telah membuat sejarah di Israel dengan serangan kalian dan penaklukan kalian.

Lanjutkan ini sampai kalian memperoleh kemenangan.

Sebagaiman di Deir Yassin, sampai di manapun, kita akan menyerang dan memukul musuh. Tuhan, Engkau telah memilih kami untuk penaklukan ini.”

Pembantaian, yang dilakukan terutama oleh geng Irgun dan Stern (juga dikenal sebagai Lehi) pada tanggal 9 April 1948 ini, tak terlupakan bagi bangsa Palestina, terutama mereka yang mengungsi di seluruh dunia dan menceritakan kisah itu kepada cucu-cucu mereka.

Pembantaian Deir Yassin menandai salah satu titik balik paling kritis dalam sejarah Palestina. Deir Yassin menjadi salah satu simbol perampasan hak miliki dan kebrutalan manusia.


Ini seperti titik awal musibah yang menjadi bencana kemanusiaan. Dengan tujuan pengusiran massal, Deir Yassin menjadi jalan penerapan kebijakan Zionis untuk meneror dan menyingkirkan semua warga asli dari Palestina. Bencana ini menyebabkan eksodus lebih dari 750 ribu penduduk Palestina dari kampung halamannya.

Deir Yassin masih menjadi pengingat bagaimana penderitaan, perjuangan dan genosida sistematis atas rakyat Palestina yang telah berlangsung selama 69 tahun. Ketika desa itu diteror dan selanjutnya penduduknya dipaksa keluar dari kampung halamannya. Pembantaian Deir Yassin sejak itu menjadi cetak biru Israel dalam membangun dan menjalankan praktik apartheid Israel.


Penjajah Zionis tidak hanya merebut desa-desa Arab, namun juga bertekad menghapus mereka dari peta untuk memberi jalan bagi pembangunan permukiman Yahudi. Sejarawan Zionis Benny Morris menulis: “Para komandan brigade dan batalion diberi ijin untuk memberangus atau mengosongkan desa-desa Arab yang memusuhinya.”

Melalui pengeras suara yang dipasang di kendaraan-kendaran perang, mereka berkeliling untuk menebarkan kepanikan masyarakat. Penduduk Arab diancam akan menghadapi bahaya jika mereka bersikeras tetap tinggal di rumah-rumah mereka. Operasi psikologis ini disiarkan dalam pengeras suara mereka, diiringi dengan ledakan bom dan rekaman suara-suara menakutkan yang ditujukan kepada para wanita.

Deir Yassin adalah sebuah desa Palestina, sekitar 5 kilometer dari Yerusalem, yang telah ada selama ratusan tahun. Kebanyakan penduduknya adalah para pemotong batu dan penanam bunga. Di pagi hari, Jumat 9 April 1948, organisasi teroris Yahudi geng Irgun dan Stern, dengan bantuan Haganah menyerang Deir Yassin ketika warganya masih tertidur.


Kenyataannya, Deir Yassin telah membuat pakta non agresi dengan Hagana di Yerusalem. Meskipun demikian, Zionis tetap membasmi mereka karena wilayah ini harus dibersihkan untuk memberi jalan Rencana Dalet. Ilan Pappe mengutip David Shipler dari New York Times yang mengambilnya dari dokumen Palang Merah menunjukkan bahwa para penyerang Zionis “membariskan lak-laki, perempuan, dan anak-anak menghadap dinding dan selanjutnya menembaki mereka”. Peppe selanjutnya mengatakan,“Ketika mereka menyerbu desa tersebut, para prajurit Zionis menembaki rumah-rumah mereka dengan senapan mesin, membunuh banyak penghuninya. Para penduduk desa yang masih tersisa kemudian dikumpulkan di satu tempat dan dibunuh secara brutal, jasad-jasad mereka dirusak, sementara sejumlah wanita diperkosa dan kemudian dibunuh.”

Para korban pembantaian termasuk juga orang-orang tua yang tidak bersenjata, perempuan hamil dan anak-anak. Perhitungan jumlah korban mencapai 254 orang.

Para pemimpin Zionis seperti Ben Gurion mengembangkan dan menjalankan rencana untuk mengosongkan penduduk asli Palestina agar dapat membangun negara khusus Yahudi sehingga berujung bencana. Pembantaian Deir Yassin adalah hasil dari cetak biru pembasmian etnik yang dirancang dalam Rencana Dalet.

Menurut Rencana Dalet, pasukan Yahudi diperintahkan untuk mengusir warga Palestina dari rumah-rumah mereka dengan kekerasan. Mereka diperintahkan menggunakan pelbagai macam strategi untuk mencapai tujuan mereka berupa; pengusiran, penghancuran dan akhirnya menanam ranjau diantara reruntuhan untuk mencegah mereka kembali.

Zionis tidak menunggu Inggris keluar dari Palestina sebelum menjalankan kampanye pembantaian etnis. Ketika Inggris keluar dari Palestina pada 15 Mei 1948, pasukan Yahudi telah mengusir atau memaksa keluar 250 ribu warga Palestina dan menduduki 200 desa-desa mereka.


Kekejaman di Deir Yassin menjadi rencana besar yang didesain oleh pimpinan tertinggi Zionis, Ben Gurion. Seperti disebut diatas, tujuannya adalah pembersihan etnis Palestina dari wilayah mandat Inggris dan merampas sebanyak mungkin tanah untuk negara Palestina.

Ada banyak kesaksian atas pembantaian di Deir Yassin. Fahimi Zidan, seorang anak Palestina yang selamat karena bersembunyi dibalik jasad ayahnya mengingat peristiwa itu dengan baik:

“Yahudi menyuruh kami untuk berbaris di dinding, mulai menembaki, semuanya tewas. Ayahku, ibu, nenek dan kakek, paman dan bibi dan beberapa anak kecil. Halim Eid melihat seorang menembak kakakku yang sedang hamil di lehernya. Kemudian dia merobek perutnya dengan pisau jagal. Di rumah lain, Naaneh Khalil melihat seorang pria mengambil parang dan membabat tetangga saya…”

Salah satu dari pasukan penyerang, seorang prajurit Yahudi yang sangat syok, Meir Pa’el melaporkan hal itu kepada kepala komandan Haganag:

“Di siang hari pertempuran berakhir. Segala sesuatunya kedengaran sunyi, namun desa itu belum menyerah. Milisi Etzel (Irgun) dan Lehi (Stern) mulai menjalankan operasi pembersihan. Mereka menembaki dengan semua senjata yang dimilikinya dan kemudian melempar granat ke rumah-rumah. Mereka juga menembaki orang-orang yang ditemuinya. Para komandan tidak berupaya apapun untuk mencegah pembantaian tersebut. Saya dan sejumlah penduduk memohon para komandan untuk memberi perintah penghentian penembakan, namun upaya saya gagal. Sekitar 25 orang diseret keluar dari rumah-rumah mereka. Mereka kemudian diangkut ke truk dan dibawa dalam parade kemenangan melalui Yerusalem dan kemudian ditembaki. Para pejuang membawa para perempuan dan anak-anak yang masih hidup diatas truk dan membawa mereka ke Gerbang Mandelbaum.”

Seorang tentara Inggris, Richard Catling melaporkan:

“Tidak diragukan bahwa banyak kejahatan seksual yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Banyak anak-anak perempuan yang diperkosa dan dibantai. Banyak bayi yang dibantai dan dibunuh. Saya melihat seorang perempuan tua yang dipukuli kepalanya dengan popor senjata..”

Jacques De Reyner dari Komite Internasional Palang Merah bertemu dengan tim pembersihan pada saat tiba di desa tersebut:

“Para anggota geng itu adalah anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, bersenjata lengkap dan membawa pedang di tangan mereka. Kebanyakan mereka masih berlumuran darah. Seorang wanita cantik, dengan mata kriminal menunjukkan pedangnya yang meneteskan darah. Dia menunjukkannya seperti piala. Ini adalah tim pembersihan, yang sedang menjalankan tugasnya secara sadar.”

Dia juga menggambarkan kejadian ketika masuk ke rumah-rumah warga Palestina:

“Ditengah perabotan rumah yang berantakan, saya mendapati beberapa tubuh -pembersihan telah dilakukan dengan senapan mesin, granat tangan dan diakhiri dengan pisau. Saya melihat jasad-jasad, diantaranya seorang gadis kecil yang terpotong tubuhnya karena ledakan granat tangan, tersebar kemana-mana dengan pemandangan sama yang mengerikan. Geng ini benar-benar kelompok yang berdisiplin dan bertindak berdasarkan perintah.”

Kejahatan di Deir Yassin merefleksikan apa yang telah terjadi di Palestina. Ini menjadi landasan pemerintah teror yang sistematik, dilakukan dengan cara yang paling brutal untuk memaksa warga Palestina meninggalkan kampung halamannya. (Voai)

sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment