Menlu Rusia Ejek Media Barat yang Tuduh Assad Punya Senjata Kimia

Minggu, 16 April 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, MOSKOW – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengejek sebuah laporan media yang katanya mengutip dari seorang jendral Suriah yang membelot dimana ia menyebut bahwa Suriah memiliki ratusan ton senjata kimia.

“Moskow terkejut oleh fakta bahwa ada seorang jenderal Suriah yang membelot namun tetap diam selama tiga tahun tentang stok senjata kimia di Suriah, yang katanya disembunyikan Damaskus dari Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia,” kata Sergei Lavrov mengejek klaim yang tidak masuk akal tersebut, pada hari Sabtu. Mempertanyakan bila memang benar klaim yang dimaksud, mengapa hal ini didiamkan selama tiga tahun terakhir.

Pada hari Jumat, surat kabar The Telegraph melaporkan dengan mengutip Brigjen Suriah. Jenderal Zaher Sakat, yang telah melarikan diri dari negara itu empat tahun lalu, bahwa Suriah masih memiliki ratusan ton senjata kimia setelah menyerahkan 1.300 ton senjata kimia (seluruh zat kimia negara itu) kepada OPCW pada tahun 2014.

“Volume keseluruhan bahan kimia yang dihancurkan diperkirakan mencapai 1.300 ton, sementara yang jendral itu katakan kemarin ada 2.000 ton senjata kimia [di Suriah]. Sejak jumlah 1.300 ton diumumkan secara resmi … mengapa jendral itu tidak mengatakan apapun selama tiga tahun, bahwa ada sekitar 2.000 ton? 700 ton bukanlah jumlah kecil,” kata Lavrov.

Menurut Lavrov, tampaknya jendral itu membelot pada 2013, tahun ketika Rusia dan AS mencapai kesepakatan pada perlucutan senjata kimia Suriah. Dia menambahkan bahwa pemerintah Suriah telah memberikan data kepada Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) mengenai jumlah senjata kimia yang dimilikinya dan OPCW juga telah mengkonfirmasi informasi tersebut.

Lavrov menambahkan sulit untuk menyembunyikan 700 ton “dalam botol’. Ungkapan ini merupakan ejekan Lavrov mengacu pada demonstrasi Menteri Luar Negeri AS Colin Powell saat ia menunjukkan botol kecil yang diajukan sebagai bukti adanya senjata pemusnah massal di Irak, yang ternyata terbukti kemudian adalah kebohongan, dan yang menyebabkan invasi AS ke Irak.

“Setiap orang yang berpikiran waras memahami bahwa jendral ini dimotivasi oleh salah satu, jika bukan ‘wortel maka cambuk’ (imbalan atau ancaman),” Lavrov menyimpulkan.

Oposisi Suriah pada tanggal 4 April menuduh pasukan yang setia kepada Presiden Bashar Assad telah menggunakan gas kimia pada orang-orang di provinsi barat laut, menewaskan hampir 80 orang dan melukai 200 lainnya. Assad menolak tuduhan ini dan menyatakan pemerintah tidak memiliki senjata kimia setelah setuju untuk menghancurkannya pada tahun 2013. Ia juga menyatakan tidak akan pernah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri.

Moskow menuntut penyelidikan menyeluruh atas insiden itu, menekankan bahwa masyarakat internasional tidak boleh menuduh pemerintah Suriah sebelum penyelidikan dilakukan. (VOAI)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment