Perang Lebanon Jilid 3 Hizbullah Vs Israel Makin Dekat

Diperkirakan sekitar 5.000 pejuang Hizbullah tengah berperang di Suriah dengan korban mencapai puluhan atau ratusan jiwa. Jumlah itu sangat signifikan bagi Hizbullah sehingga pertahanan mereka di Lebanon jauh berkurang untuk menghadapi Israel yang selalu mengincar Lebanon.

Ditambah dengan kasus korupsi yang tengah menjerat Perdana Menteri Benjamin Natanyahu yang membutuhkan isu besar sebagai pengalih perhatian, para analis dan media massa memprediksikan bakal terjadinya Perang Lebanon jilid 3 (Perang Lebanon 1 terjadi tahun 1982 setelah Israel menginvasi Lebanon untuk melucuti persenjataan para pejuang Palestina, sedang Perang Lebanon 2 terjadi tahun 2006 ketika Israel berusaha menghancurkan persenjataan Hizbullah). (Baca: Kenapa Zionis Israel Tidak Berani Perang dengan Hizbullah? Ini Jawabannya)

“The Coming Clash: Why Israel Seeks a Third War on Lebanon?,” demikian tulis media Iran Fars News, 13 Maret lalu.

“War in Lebanon Coming to a Theatre Near You,” tulis Veterans Today 27 Januari.

“Are Israel and Hezbollah headed for war?”, Matthew RJ Brodsky, Russia Today.

“Israel preparing to utterly destroy Lebanon?,” tulis Veterans Today, 21 Maret.

Spekulasi ini bertambah kuat setelah media Israel Debka File minggu lalu mengeluarkan laporan yang dianggap sebagai ‘dalih’ bagi Israel untuk menyerang Lebanon. Dalam laporan tersebut diklaim bahwa kelompok ISIS dan Al Qaida tengah bergerak ke Lebanon utara untuk membangun basis baru, setelah terdepak di Suriah. (Baca: Tentara Israel Takut Hadapi Pejuang Hizbullah)

“Pada saat dimana Hezbullah secara jelas berperang melawan ISIS dan Al-Qaeda di Suriah, rezim Zionis Israel mengatakan perang melawan Lebanon kini tengah mendekat,” tulis FARS News.

Tulisan FARS ini menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett tentang prospek perang di Lebanon mendatang, dimana Bennett menyebut perang tersebut akan jauh lebih besar dari perang tahun 2006. Hal ini karena Israel menganggap semua kelompok di Lebanon, termasuk pemerintahnya, sebagai lawan yang boleh dihancurkan. (Baca: Israel Akui Takut Hadapi Pasukan Hizbullah)

Ini untuk membedakan dengan perang tahun 2006 dimana Israel hanya menganggap Hizbullah sebagai sasarannya. Perubahan sikap Israel ini adalah sebagai respon atas pernyataan Presiden Lebanon Michael Aoun bulan Januari lalu, yang menyebut Hizbullah sebagai bagian integral pertahanan Lebanon dalam menghadapi ancaman Israel. Sementara pada tahun 2006 pemerintah dan militer Lebanon menyatakan netral dan tidak mendukung Hizbullah yang berperang melawan Israel.

Perang Hizbullah-Israel sebenarnya telah berlangsung di Suriah. Minggu lalu, pesawat-pesawat tempur Israel menyerang konvoi militer Hizbullah di Suriah yang direspon Suriah dengan meluncurkan rudal-rudal anti-pesawat S-200 yang diklaim berhasil merontokkan sebuah pesawat F-16 milik Israel. Pada Januari 2015 Israel menyerang konvoi militer Hizbullah dan Iran di dekat perbatasan Golan, dan menewaskan sejumlah komandan Hizbullah serta Garda Revolusi Iran. Hizbullah membalas dengan melancarkan serangan lintas perbatasan Lebanon-Israel, menewaskan 2 prajurit Israel dan melukai sejumlah prajurit lainnya. (Baca: Sekjen Hizbullah ; Lebanon Kuburan Bagi Serdadu dan Tank-Tank Israel)

Sejak insiden tersebut Israel dan Hizbullah seolah menemukan kesepakatan untuk membiarkan perbatasan Lebanon-Israel dalam kondisi status quo. Namun, seiring kegagalan rencana Israel dan Amerika untuk melemahkan Suriah dan bahkan militer Iran dan Rusia telah bercokol di Suriah, Israel tentu berfikir untuk melakukan rencana pengimbang, yaitu menyerang Hizbullah dan Lebanon, terutama pada saat sebagian kekuatan Hizbullah berada di Suriah.  (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment