Pernyataan Gus Ishom dalam Sidang Ahok Bikin Kelompok Radikal Kepanasan

VOA-ISLAMNEWS.COM, JAKARTA – Dalam Surah Al Maidah ayat 51 berbicara tentang hubungan Muslim dan Non Muslim dalam konteks peperangan. Dengan demikian ayat tersebut tidak tepat berlaku pada kondisi normal. Demikan kesaksian Kiai Ahmad Ishomuddin dalam sidang Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017). (Baca juga: Rilis LTN NU: Indonesia darurat media Wahabi)

Argumentasi Ahmad Ishomuddin sangatlah tepat dan memang demikianlah adanya. Tak bisa dibayangkan bahwa ayat yang berbicara tentang konteks perang diterapkan pada kondisi normal, dan damai.

Jika kita merujuk pada tafsir sahih Internasional, kata awaliya pada ayat tersebut, tidak diterjemahkan sebagai PEMIMPIN tetapi SEKUTU, terkadang disebut PELINDUNG, TEMAN DEKAT. Jadi dalam kondisi perang, jangan jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai TEMAN DEKAT, PELINDUNG apalagi SEKUTU. (Baca juga: Kyai NU Serukan Boikot Trans TV Pasca Undang Tokoh Wahabi Khalid Basalamah)

Namun dalam kondisi normal, damai, Allah menerangkan sbb:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan Tiada pula mengusir kamu dari negerimu Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS Al Mumtahanah:8). (Baca juga: Sekjen ISNU: Wahabi dan Barat Hancurkan Islam dengan Isu Sektarian dan Palsukan Hadis Aswaja)

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu…” (QS Al Mumtahanah:9)

Pada ayat lain Allah menganjurkan untuk berbuat adil: “…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS Al Maidah:8)

Yap, Allah tidak melarang kita berbuat adil, menjadikan teman orang-orang yang tidak memusuhi kita. Adil itu tidak memandang ras, suku, keyakinan atau apapun itu. Tidaklah adil jika terjadi diskriminasi atas suatu ras, suku keyakinan. Ini sangat masuk akal, karena setiap manusia adalah ciptaan Allah. Tidak terbayangkan bahwa Allah menciptak manusia untuk saling membenci, memusuhi. padahal pada ayat lain Allah menciptakan manusia untuk saling kenal mengenal, firmannya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal…” (QS Al Hujuraat:13)

Jika, Al Maidah:51 dipaksakan pada kondisi normal, maka Al Mumtahanah: 8-9, Al Ma Idah:8 harus dibuang. Tidak ada kegunaan ayat tersebut. Kesimpulannya, Ahmad Ishomuddin adalah benar.

PEMIKIRAN ALA WAHABI MUNCUL

Namun atas pernyataannya, berbagai statement menyebut beliau murtad, sesat, kafir. Ini adalah ciri khas pemikiran takfiri WAHABI. Mereka yang tidak sependapat denganmu adalah sesat, murtad, kafir.  Pemahaman kaku seperti  inilah yang membuat berbagai negera-negara Islam jatuh kedalam konflik sektarian dan agama yang amat mengerikan. Mereka memahami teks-teks Kitab Suci secara Litera, penafsiran sempit lalu menerepkannya secara kaku, brutal. (Baca juga: Sekjen NU: Racikan Wahabisme dan Kepitalisme Merubah Wajah Suci Makkah)

Lebih jauh, mereka membelokkan argumentasi ustadz dengan mengatakan bahwa ustaz berkata Al Qur’an telah expired. Sebuah tuduhan yang sangat jauh panggang dari api.

Saya coba mengunjungi berbagi media, terutama MEDSOS dan saya menemukan statement- statement, hujatan yang sangat parah yang diterima ditujukan kepada Ahmad Ishomuddin. Dari gambaran tersebut, sekarang kita tahu bahwa pengaruh salafi WAHABI dinegeri ini telah sedemikian kuat. (Baca juga: Keperkasaan NU Hadapi Radikalisme dan Wahabi)

Yang saya sungguh kuatirkan berikutnya adalah RADIKALISME massal hasil dari cuci otak PAHAM tersebut. Ini adalah tanda-tanda gejala awal radikalisme di dunia Muslim. Bukankah berbagai organisasi Islam radikal diberbagai belahan dunia lahir dari pemikran kaku TAKFIRISME? WASPADALAH! (Voai)

Sumber: http://www.islamnusantara.com

Related posts

Leave a Comment