Rusia: HRW Tak Akui Penggunaan Bom Era Soviet di Suriah

Rabu, 03 Mei 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, MOSKOW – Kementerian Pertahanan Rusia telah menolak sebuah laporan yang dikeluarkan oleh pakar barat dari Human Rights Watch mengenai dugaan penggunaan bom kimia era Soviet di Suriah dan menyebut apa yang dikatakan HRW itu sebagai sebuah “dongeng.”

Pada hari Selasa (02/05), juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayjen Igor Konashenkov mengecam tuduhan tersebut, menunjukkan bahwa tidak ada bukti konkret untuk mendukung klaim bahwa senjata kimia telah digunakan selama serangan yang disebut-sebut itu.

“Hari ini menandai tepat satu bulan sejak insiden di Khan Shaikhoun Suriah, di mana senjata kimia diduga digunakan. Namun, baik perwakilan AS maupun Inggris dan Prancis yang meraung tentang ‘serangan kimia’ tidak dapat menghadirkan bukti konkret apapun kepada publik atau Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia. Hanya rumor dan spekulasi berdasarkan data media sosial, yang telah dibantah oleh para ahli, “demikian bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia yang dikutip Sputnik pada Selasa (02/05) tersebut.

Konashenkov juga mengingatkan bahwa tidak satu pun ahli OPCW yang pernah berkunjung ke Khan Shaikhoun: “Dengan mempertimbangkan hal ini, munculnya penyelidikan pseudo-sensasional dari kawah (bekas bom) oleh ahli HRW ini, bersamaan dengan ‘temuan’ Fragmen amunisi penerbangan Khuf-250 Soviet dengan ‘jejak sarin’ seharusnya tidak mengejutkan.”

HRW mempersembahkan foto mock up amunisi Khuf-250 dari museum Angkatan Bersenjata Rusia di Moskow sebagai ‘bukti’ bom yang pasti digunakan di Suriah, kata Konashenkov.

Dalam pernyataan tersebut, Konashenkov juga menunjukkan ketidaksesuaian lebih lanjut dalam laporan tersebut: “Bom KhAB-250 tidak pernah diekspor ke luar Uni Soviet dan sudah dibongkar pada tahun 1960an.”

Konashenkov menekankan bahwa bom KhAB-250 era Soviet yang, menurut laporan HRW, telah diduga digunakan di Suriah, tidak pernah dirancang untuk mengandung gas saraf sarin.

Kementerian itu menunjukkan bahwa bom Khuf-250 era Soviet tidak memiliki tempat pengisi dengan tutup yang aman: “KhAb-250 diisi ulang melalui lubang samping khusus.” Konashenkov juga menunjukkan kelemahan lain dalam laporan palsu HRW dengan mengatakan bahwa KhAb-250 tidak akan pernah bisa meninggalkan kawah saat mereka meledak di udara pada ketinggian 30-70 meter (sekitar 100-230 kaki) di atas tanah.

HRW menujukkan foto dan video sebuah kawah dari bom pertama yang dipenuhi fragmen logam berwarna hijau, yang menurut HRW mungkin adalah bom Khuf-250 buatan Soviet.

“Begitu para militan mengetahui bahwa para ahli OPCW akan datang, mereka segera mengisi kawah di tempat dugaan ledakan senjata kimia dengan fragmen-fragmen tersebut,” kata pernyataan tersebut.

Hanya sebuah misi khusus para ahli yang bisa membantu mewujudkan gambaran obyektif tentang apa yang telah terjadi di Khan Shaikhoun, Suriah pada 4 April, Kementerian Pertahanan Rusia menyimpulkan: “Semakin banyak negara-negara Barat menghalangi ini, semakin banyak ‘dongeng’ dan tukang cerita’ bermunculan, seperti HRW, penipu dari White Helmets (Helm Putih) dan sebagainya bermunculan.”

Pada tanggal 4 April, dilaporkan sebuah insiden senjata kimia di provinsi Idlib Suriah merenggut nyawa sekitar 80 orang dan menimbulkan kerugian pada 200 warga sipil lainnya. Damaskus menyalahkan kaum militan dan mengulangi bahwa mereka tidak memiliki senjata kimia. Sejumlah negara Barat menyalahkan Damaskus atas insiden tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) memulai penyelidikan. Insiden tersebut digunakan oleh Washington untuk meluncurkan serangan rudal jelajah Tomahawk terhadap pangkalan udara Suriah di Homs pada 6 April. (Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment