Sejak 30 Tahun Lalu, AS Sudah Berusaha Hancurkan Suriah

Jum’at, 14 April 2017,

VOA-ISLAMNEWS.COM, MOSKOW – Dalam catatan sejarah, konflik Suriah mulai berkobar pada tahun 2011 yang merupakan puncak dari upaya Amerika Serikat untuk mengacaukan Suriah selama bertahun-tahun.

Laporan media Rusia mengutip dari New Eastern Outlook mengatakan bahwa Amerika Serikat telah merencanakan untuk menggulingkan pemerintah Suriah selama lebih dari 30 tahun dan konflik yang berkobar di Suriah pada 2011 merupakan puncak dari upaya AS selama bertahun-tahun. (Baca juga: Surat Kabar AS: Di Suriah Militer Rusia Permalukan Wajah Amerika dan Barat)

Situs New Eastern Outlook mengumumkan tentang adanya bukti yang menunjukkan adanya upaya AS untuk menghancurkan Suriah. Sebuah laporan yang berjudul “Keterlibatan kekuatan yang sebenarnya dalam konflik dengan Suriah” yang ditulis oleh staf CIA Graeme Fuller di tahun 1983 menyerukan perlunya meningkatkan tekanan pada pemerintah Suriah dan mengacaukan kondisi di Suriah yang menghalangi terwujudnya kepentingan AS di Lebanon dan kawasan Teluk”.

Sebagaimana yang kita ketahui pilar kenijakan luar negeri AS dan Eropa di Timur tengah yakni mengasingkan Iran, dan Suriah termasuk dalam sekutu utama Iran di Timur Tengah, sehingga jika saat ini mereka berhasil menjatuhkan Bashar Assad maka akan menjadi pukulan hebat bagi kampanye Iran dalam menentang Barat, AS dan Israel.

Untuk mencegah Suriah dari menghalangi AS mencapai tujuannya, laporan tersebut mengungkapkan tentang peningkatan tekanan militer “tersembunyi” di Suriah yang digagas oleh AS. (Baca juga: Andrew Korybko: Kampanye Gulingkan Assad Bentuk Keangkuhan Amerika (Bag 1))

Laporan ini juga mengutip dalih lain untuk membenarkan serangan militer terhadap Suriah oleh Turki.

Selain itu, jika berbicara soal Suriah bukan hanya tentang posisi Suriah yang menghalangi kepentingan AS, tetapi juga keberadaan strategis Suriah itu sendiri sebagai “jantung Timur Tengah” dimana ada anggapan bahwa jika dapat mengontrol Suriah maka akan mengontrol jalur energi di Timur Tengah.

Perlu diketahui, Suriah dilewati oleh pipa-pipa minyak dan gas oleh negara-negara lintas benua. Pengiriman minyak akan lebih efisien dengan jalur pipa yang melewati Suriah karena biaya pengiriman lebih rendah, lebih cepat dan aman. (Baca juga: Andrew Korybko: Kampanye Gulingkan Assad Bentuk Keangkuhan Amerika (Bag 2, Tamat))

Bukan hanya soal ongkos dan harga minyak, namun Suriah menjadi “jalur” setiap daerah kaya minyak seperti Irak dan Iran untuk mengirim minyaknya menuju Laut Mediterania sehingga dapat di kirim kepasaran Eropa dan AS. Inilah alasan yang membuat Suriah menjadi “eksotis” di mata negara-negara maju layaknya Amerika dan Uni Eropa yang bernafsu untuk menaklukan Suriah dibawah komandonya.

Dan terbukti, pada Juli 2011, CNN melansir adanya kesepakatan kerjasama antara Suriah, Iran, dan Irak soal pembangunan pipa gas alam. Pipa gas yang hendak dibangun Iran-Irak dan Suriah jelas membahayakan keamanan pasokan gas Eropa dan Amerika Serikat karena berpotensi menjadikan Iran sebagai pengendali saluran dan pasokan energi di Timur Tengah. Hal ini juga berbahaya bagi produsen-produsen besar energi di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab yang merupakan mitra bisnis AS, seperti dilansir oleh Arabic.SputnikNews (12/04).

Singkat kata, monopoli AS dan Eropa terhadap energi di Timur Tengah tentu akan berakhir jika kerjasama tiga negara tersebut dibiarkan tumbuh dan berkembang. Maka pilihannya adalah Bashar Al Assad harus tumbang, untuk menggagalkan proyek pipa tersebut. Jika tidak, Amerika dan Uni Eropa, mau tak mau bakal tambah bergantung dengan pasokan energi dari Rusia yang harganya relatif tinggi. (Baca juga: AS Ingin Singkirkan Assad Karena Menentang Hegemoni Amerika)

Laporan ini mengatakan bahwa Suriah saat ini dianggap menghalangi kepentingan AS di Lebanon ataupun di Teluk, melalui penolakan Damaskus untuk memperpanjang jaringan pipa gas yang diusulkan oleh Qatar.yang terbentang dari Turki ke Eropa melalui Suriah dan lebih memilih kerjasama dengan Irak dan Iran dan membangun saluran pipa ke timur. Dengan rasa sakit hati ini maka tak heran jika Turki beserta sekutunya menjadi ‘arsitek utama dari konflik Suriah’. Selain itu, Amerika Serikat terus mempertimbangkan eskalasi tekanan pada Assad dengan kejam dengan menciptakan ancaman militer yang simultan terhadap Suriah. (Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment