Intelijen: Radikalisme di Jerman Dipicu oleh Meningkatnya Salafi Wahabi

Senin, 03 Maret 2017

VOA-ISLAMNEWS.COM, BERLIN – Intelijen Jerman telah memperingatkan bahwa meningkatnya jumlah penganut salafi wahabi di jerman telah membuat radikalisme berkembang pesat di negara itu.

Intelijen Jerman dalam surat kabar Rheinische Post yang dikutip Sputnik pada Minggu (02/04) menyebut telah mengidentifikasi bahwa saat ini ada sekitar 10.000 pengikut gerakan Islam radikal wahabi salafi, yang berarti lebih dari dua kali lipat selama dekade terakhir. (Baca juga:Banser NU Bubarkan Pawai HTI yang Bawa Bendera Khilafah)

Ada sekitar 3.800 pengikut di Jerman pada 2011, angka yang meningkat menjadi sekitar 7.500 pada 2015, menurut BfV.

Pihak berwenang Jerman telah dikritik karena gagal menangani secara memadai terhadap ancaman dari Salafisme yang menebarkan kekerasan. Tahun lalu terungkap bahwa seorang ekstremis Islam berusia 24 tahun yang “aktif dalam kegiatan Salafi” diizinkan untuk bekerja di daerah berkeamanan tinggi di dua bandara Berlin selama bertahun-tahun. (Baca juga:Wakil Kanselir Jerman; Masjid Salafi Wahabi Harus Ditutup)

Dalam beberapa bulan terakhir, polisi Jerman telah menindak sel-sel Salafi wahabi di Jerman. Pada bulan November, polisi Jerman di sepuluh negara yang berbeda meluncurkan serangan pada sekitar 200 apartemen dan dua masjid milik “Die Wahre Religion” (The True Religion), sebuah kelompok ekstremis Salafi wahabi.

Pemerintah Jerman telah menegaskan bahwa Salafisme adalah “bentuk yang Islam sangat radikal,” yang memiliki hubungan dekat dengan terorisme.

Pekan lalu seorang wartawan Jerman yang menyamar mengungkapkan bahwa mereka (orang-orang salafi wahabi) telah memasuki “masjid-masjid ” di seluruh Jerman dan membentuk komunitas tersendiri dengan mengkhotbahkan penolakan terhadap masyarakat Jerman. (Baca juga:Demokrasi dan Rekayasa Makar Khilafah)

Constantin Schrieber, sang wartawan, menghadiri khotbah di mana sang pengkhotbah menggambarkan masyarakat Jerman sebagai sumber bahaya dan godaan bagi umat Islam. Dia menemukan pamflet yang mengatakan kepada jamaah bahwa Quran menolak demokrasi parlementer, bahwa konsep bangsa adalah “penyakit Barat” dan bahwa Allah sendiri adalah sumber hukum.” (Voai)

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment