Jika Pemerintah Jual Pulau ke Arab Saudi, Oposisi Maladewa Ancam Demo Raja Salman

Sabtu, 11 Maret 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, MALADEWA – Partai-partai oposisi di Maladewa memprotes kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz, yang dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang, menyusul laporan bahwa Raja Salman berencana akan membeli seluruh atol di negara pulau Asia Selatan itu.

“Kami akan tegaskan kepada kerajaan Saudi bahwa kami menentang penjualan tanah kami,” kata mantan menteri luar negeri Maladewa, Ahmed Naseem, kepada wartawan di Kolombo, ibukota Sri Lanka, pada Jumat (10/03/2017).

Naseem juga memperingatkan bahwa aksi protes massal akan digelar di ibukota Malé sebagai penentangan atas kesepakatan kontroversial yang bernilai miliaran dolar. [Baca; Oposisi Maladewa; Penjualan Pulau ke Saudi Sebabkan Penyebaran Wahabisme]

Dia menegaskan bahwa ada laporan di negaranya bahwa Riyadh atau badan usaha Saudi telah membeli atol Faafu, yang terdiri dari 28 pulau karang kecil, dengan nilai $ 10 miliar.

Pada hari Rabu, Shifa Mohamed, wakil pemimpin Muo, juga mengatakan bahwa koalisi telah memutuskan “untuk melakukan segala cara” pada tingkat domestik dan internasional “terhadap penjualan atol Faafu atau bagian dari itu.”

Komentarnya datang sehari setelah Presiden Abdulla Yameen Abdul Gayoom membantah laporan tentang kesepakatan itu.

Kantor Kepresidenan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “tuduhan penjualan atol faafu ke entitas asing, tidak benar.” Namun menambahkan bahwa itu hanya berbagai “investor” untuk melaksanakan pembangunan di Faafu , yang akan fokus pada “memberikan hasil positif” bagi negara.

Para pemimpin Muo dan oposisi Partai Demokrat Maladewa (MDP) telah menuduh pemerintah memerintahkan tindakan keras terhadap aktivis oposisi menjelang kunjungan kerajaan. Raja Saudi melakukan tur ke enam negara Asia, yang dimulai di Malaysia, kemudian disusul ke Indonesia dan hari ini akan bertolak ke Jepang.

Dia akan melakukan perjalanan ke Brunei, China dan Jepang sebelum mengakhiri tur mewahnya di Maladewa.

Anggota MDP sebelumnya memperingatkan bahwa keputusan kontroversial yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menjual pulau-pulau akan memperburuk penyebaran Wahhabisme di negara itu.

Maladewa dilaporkan salah satu yang tertinggi dalam kontributor militan asing untuk kelompok teroris Daesh Takfiri, yang telah mendatangkan malapetaka terutama di Suriah dan Irak.

Wahhabisme adalah ideologi radikal yang mendominasi Arab Saudi, bebas disebarkan oleh ulama yang didukung kerajaan, dan teroris di seluruh dunia terinspirasi ideologi itu dalam melakukan kejahatan mereka. Daesh dan kelompok-kelompok teror Takfiri lainnya menggunakan ideologi Wahabi untuk menyatakan orang dari mazhab atau agama lain sebagai “kafir” dan kemudian membunuh mereka. [Voai]

Sumber: Arrahmahnews.com

Related posts

Leave a Comment