Kenapa Media Global Enggan Beritakan Gadis Kecil Suriah Korban Ledakan Bis di Rasyidin?

Jika kita menempatkan foto gadis kecil Suriah yang tidak memiliki dosa ini berhadapan dengan foto seorang anak kecil bernama Omran Daqneesh yang telah banyak menarik perhatian dunia bahkan mendominasi halaman utama di surat kabar internasional yang sedang dalam kondisi terluka dan kamera-kamera memotretnya dalam keadaan yang mengharukan dan mengerikan., maka kita tidak akan menemukan perbedaan antara kedua gambar yang mengundang kesedihan ini.

Namun, media global yang saat ini telah dipolitisir harusnya melihat perbedaan besar antara kedua anak yang telah disebutkan di atas. Foto Omran digunakan dalam kepentingan pribadi dan untuk mengambil keuntungan dengan wajah tak berdosanya sebagai media promosi yang berkaitan dengan pencitraan politik negara-negara barat juga untuk mendistorsi citra pemerintah Suriah dan sekutunya di mata dunia dan dalam pembentukan opini publik. Sementara itu, kita hampir tidak melihat penyebaran foto gadis kecil Suriah yang malang yang telah terluka akibat ledakan yang mengenai dirinya dan keluarganya dalam perjalanan mereka menuju Aleppo. Lantas, pertanyaan yang muncul adalah “mengapa kisah gadis kecil yang malang ini tidak disorot oleh media Barat dan media internasional sebagaimana mereka mengangkat dan menyoroti kisah Omran Daqneesh?”

Jawaban pertanyaan ini akan kami jelaskan yakni, jika surat kabar internasional telah mencetak gambar gadis kecil pengungsi dari al-Fu’ah dan Kafarya di halaman depan surat kabar mereka maka jelas hal ini akan menjatuhkan topeng Barat dan sekutu-sekutunya di Suriah dan akan terlihatlah kebenaran dari semua fakta bahwa apa yang di namakan oposisi hanyalah sekelompok tentara bayaran yang membenci semua doktrin agama. (Baca: Majalah Intelijen Bongkar Wajah Busuk Qatar dan Turki Bantu ISIS di Suriah)

Ya, gambar bocah bernama Omran telah dijadikan simbol tragedi perang di Suriah, bahkan ia menjadi barang dagangan demi kepentingan pihak tertentu dengan menampilkan gambar yang mengundang kesedihan. Dan pembantaian yang dialami oleh penduduk Kafarya dan al-Fu’ah yang mengungsi yang dijadwalkan akan dievakuasi ke Aleppo di bawah kesepakatan dengan oposisi bersenjata luput dari  perhatian media-media Barat dan Arab, mereka sama sekali tidak menyoroti kisah ini sebagaimana ketika mereka menyoroti keadaan bocah Omran bahkan ketika mereka mengetahui bahwa sebagian besar korban ledakan tersebut adalah anak-anak dan perempuan, mereka tetap bungkam dan tidak mengangkat kisah ini.

Selang beberapa hari setelah terjadinya tragedi pembantaian di Rasyidin terhadap penduduk al-Fu’ah dan Kafarya, kami terus menanti kabar hangat pembantaian ini dan berharap akan munculnya gambar-gambar korban ledakan teror yang menargetkan bis-bis para pengungsi di surat-surat kabar internasional dan kantor-kantor berita dunia, namun sayangnya yang terjadi adalah berita ini justru disingkirkan dengan sindiran dan kecaman.

Bahkan surat kabar-surat kabar Barat mengabaikan berita tentang tewasnya 116 anak-anak akibat pemboman kanvoi bis pengungsi tersebut tanpa berpegang pada nilai-nilai moral dan kemanusiaan serta kewajiban untuk menyampaikan kebenaran.

Sebagaiman ungkapan “kondisi tersebut telah berlalu dan kesempatan berbicara telah berakhir” sangatalah menyakitkan, dimana sesaat sebelum ledakan terjadi, para teroris ini telah membujuk para pengungsi untuk keluar dari bis mereka untuk dibagikan makanan ringan sesaat sebelum ledakan. (Baca: Hacker Malaysia Bongkar Dokumen Konspirasi Busuk Serangan Kimia di Suriah)

Kesaksian salah satu korban terluka dari konvoi bis yang di bom mengatakan bahwa dirinya melihat sebuah mobil asing yang mendekati konvoi bis tersebut dari arah barikade teroris, dan para teroris ini memanggil anak-anak pengungsi untuk turun dari bis untuk menerima makanan ringan dan hal ini menunjukkan kepada kita bagaimana serangan keji ini dilakukan. Dan sayangnya banyak anak-anak yang menanggapi tawaran ini terutama karena mereka telah mengalami kelaparan dalam masa yang cukup panjang dan mereka telah menghabiskan waktu selama 48 jam di dalam bis tanpa diizinkan meninggalkan bis, dan hanya sepuluh menit setelah anak-anak mendekati mobil para teroris ini ledakan pun terjadi.

Selain itu, pernyataan dari seorang wanita penumpang salah satu bis tersebut menunjukkan bahwa beberapa ambulans Turki berada di dekat konvoi bis tersebut sebelum ledakan terjadi, dan setelah insiden ledakan terjadi ambulans-ambulans ini dengan cepat membawa korban-korban tewas dan terluka ke arah yang tidak diketahui dan hingga kini masih tidak diketahui bagaimana nasib para korban yang dibawa ambulans ini, apakah Turki sedang bekerjasama dengan para teroris dan mereka telah mengetahui niat para teroris dalam melakukan pengeboman tersebut?, seperti dilansir Mepanorama (23/04).

Pertanyaan yang terus terngiang di kepala kami pada akhir analisis ini adalah “mengapa foto bocah Suriah yang tenggelam bernama Ilan dengan cepat mendominasi halaman utama dari media-media internasional dan Arab lalu setelahnya terbit foto bocah yang terluka Omran di halaman utama media-media, namun foto gadis kecil Suriah yang terluka dari wilayah al-Fu’ah dan Kafarya yang tidak diketahui namanya sangat sepi dari pemberitaan hingga tidak ada satupun surat kabar Arab maupun non-Arab yang memberitakannya di halaman-halaman utama media mereka?. (Voai)

Sumber: Salafynews.com

Related posts

Leave a Comment